Posted by: jamunastiti | January 15, 2011

Kenangan Pohon Asam


Episode : 2

Tema    : Aku, Sinom dan Pohon Asem

Kuhempuskan nafas keprihatinan yang menghimpit. Sinom sahabatku, kau pantas untuk bangga dan percaya diri. Kau jenis herbal yang semakin langka. Segarmu ringan membawa kesan, kaya vitamin C. Kau memang bagian pohon asem, namun dirimu sama sekali bukan buah asam yang memiliki sifat dan rasa masam yang sangat berbeda. Buah asam rasa masamnya lebih keras dan pekat, cenderung menyentak dan panas. Sinom bening kehijauan, kadang butuh bantuan warna kunir untuk membuatnya lebih merona, sedangkan buah asam berwarna gelap kecoklatan. Karena kesulitan pasokan sinom, produsen minuman herbal sering memalsukan sinom dengan asam. Malah lebih tragis lagi dikacaukan asam sitrat dan pewarna buatan. Pantas Si Nona mencak-mencak tidak terima. Tenang Nona, aku adalah orang yang tidak mudah tertipu dan melihat kepalsuan itu. Karena aku fans beratmu ! Aku tahu di jaman sekarang tidak mudah untuk memperolehmu setiap saat. Butuh waktu dan perjuangan berat, karena indukmu sdang pohon asam juga semakin jarang. Jika buah asam masih mudah diperoleh mungkin sifatnya yang tahan lama dan mudah dibuat semakin awet. Sedangkan tubuh daunmu rapuh. Engkau sinom hanya berjaya dikala segar, simplisiamu tidak lagi nikmat atau berkhasiat. Wajar kau merasa nelangsa di usiamu yang pendek masih harus ditabiri oleh rasa dan aroma buah tanaman lain ! Rasanya hanya mimpi mengharapkanmu tumbuh lestari di segala penjuru Malang besar dan Raya. Aakr indukmu yang terlampau kuat, menghujam ke badan jalan bahkan menembus tembok bangunan membuat para pengambil keputusan mengganti pohon asam dengan dengan tanaman lain  yang tidak terlampau besar dan mudah dibongkar tanam seperti akasia, cerri atau pinang merah. Di beberapa kota memang barisan indukmu bertahan, namun di banyak daerah terutama di kota- kota cukup besar seperti Malang hanya satu dua pohon asam yang tersisa.

Tak jauh beda dengan nasib pohon-pohon asam dalam kenangan masa laluku. Sinom sahabatku dari sanalah awal pekenalanku dengan sosok perkasa pohon indukmu. Sejak kecil mataku telah akrab dengan jajaran pohon jangkung meraksasa yang tegak disepanjang tepi jalan raya depan rumah. Sering kali bagiahnya berlubang besar memberi rongga pada kehidupan serangga. Kala bayu berhembus kencang indukmu berlomba dengan si mahoni, yang juga berpostur tinggi gagah, melesatkan dedaunan, ranting-ranting dan buah-buah tua yang kulitnya gemeretak menyembulkan daging asam manis pembalut biji-biji coklat mengkilap bernama klingsi. Desau angin ditingkahi suara benda-benda jatuh dari ketinggian pohon-pohon tua yang tak renta tinggal abadi dalam pendengaranku. Reyau gerimis dan langit abu-abu kehitaman membaur dengan wangi bunga tanjung dan mahuni menjadi visualisasi abadi juga dalam nadi memori, tak lapuk oleh waktu. Juga cerita cerita nyata yang tersangkut bersamanya. Paling tidak ada tiga buah kisah tak terlupa. Kisah pertama tentang seorang lelaki muda yang sejak siang mondar-mandir dengan gelisah disekitar pohon asam depan rumah. Duduk, berdiri, melamun tanpa terlihat makan atau minum. Tau-tau ba’dha maghrib terdengar suara seperti benda keras terlindas roda truk ketika kendaran itu melintas kencang diatas jalan aspal. Oranng-orang segera menyeruak keluar kejalan raya ketempat kejadian tepat di depan pohon asam depan rumah. Tak ketnggalan aku yang masih kanak-kanak kami semua melihat orang yang sejak siang gelisah itu tengkurap bersimbah darah dengan kepala remuk dan otak berhamburan dimana-mana. Orang-orang menyebut dia bunuh diri. Sungguh kosa kata baru dengan contoh riilnya yang sangat mengerikan untuk anak seusiaku. Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku dicekam susana horror setiap melihat pohon asam itu. Namun itu hanya perasaanku karena setelah itu tidak pernah terjadi lagi kejadian-kejadian susulan yang aneh atau menakutkan berkaitan dengan peristiwa bunuh diri itu. Pohon asam sahabatku tetap ramah dan setia menebar bagian-bagian tubuhnya yang telah tua atau lemah kepermukaan tanah saat angina kencang berhembus. Juga tetap setia menjadi rumah sinngah bagi burung-burung perenjak yang rajin menyanyi setiap pagi…..

Cerita kedua tentang serang bakul sayur tua langganan ibuku. Dia biasa membawakan kami kembang turi, buah kluwih atau daun semanggi. Suatu ketika dia tidak jualan hingga berhari-hari. Ternyata dia telah tertimpa musibah cucu dia satu-satunya yang suka memanjat pohon asam kecelakaan. Saat memanjat diketinggian dia terpeleset. Tubuhnya tergores ranting dan dedahanan, meluncur jatuh tak tertahan. Anak itu kecil itupun tewas karena gagar otak. Itu terjadi diatas pohon asam lain yang berjarak satu setengah km dari rumahku. Namun tidak seorangpun yang mendiskreditkan apalagi menebang pohon asam itu. Wak Mus, nama penjual suyur itu, menganggap hal itu cobaan dari yang Maha Kuasa. Orang lainpun menganggap itu murni musibah yang dipicu oleh keteledoran dan kenakalan seorang anak kecil, tidak ada hubungannya dengan keangkeran pohon asam.

Cerita ke-3 tentang Pak Kandar manusia cebol jago memanjat. Sosoknya yang setengah ukkuran manusia dewasa normal selalu menarik perhatian, karena setiap hari kerjanya berjengkulitan dari satu pohon asam ke pohon asam yang lain untuk mengambil bagian-bagian pohon yang bisa dijual. Dan bagian mana dari indukmu yang tidak bisa dimanfaatkan manusia Sin? Sering aku terheran-heran melihat tumpukan kayu dari dahan-dahan pohon asam yang besar dan rimbun seperti berjalan sendiri diatas tanah dalam posisi horizontal. Setelah diperhatikan dengan seksama ternyata tubuh pendek gempal tanpa pakaian atas milik Pak Kandarlah yang sedang beraksi. Tertutup ranting-ranting dan dedaunan hasil tebangannya, tubuh kerdil yang mengkilat, basah kuyup oleh peluh itu dengan cekatan bekerja. Daun dikumpulkan dengan daun, buah dengan buah dan terakhir batang-batang kayu dipotong-potong dan ditata dengan rapi. Semua dilakukan tanpa bicara. Kecuali mungkin saat ia bertransaksi dengan orang lain untuk menukarkan hasil keringatnya dengan uang. Sayangnya aku hamper tidak mendengar ia bersuara atau berbicara kecuali sedikit gumaman lirih. Ketika orang tuaku menjual rumah besar kami ditepi jalan dengan harga murah dan kami harus pindah kedaerah pinggiran didesa dan kecamatan lain saat itulah aku tak pernah melihat Pak Kandar lagi. Saat Mojosari kotaku semakin giat berbenah dan membangun maka diperlebarlah jalan-jalan utama. Yang ku tahu tempat asri penuh dengan tanaman yang bernama BALAI PENELITAIN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN yang terletak persis disebrang rumahku dulu itu akhirnya berubah menjadi Pasar Pertiwi yang sangat besar dan ramai. Kemana induk-induk Sinom, pohon-pohon asam jangkung besar kesayanganku? Tentu saja hanya buldoser-buldoser berwarna kuning milik dinas PU yang bisa mencerikannya dengan detail bagaiman mesin-mesin berat itu berhasil merobohkan mereka. Mengakhiri banyak kisah manis masa kecil, mengusir serangga-serangga dan burung-burung perenjak terbang menjauh.

Dan kini saat aku kesulitan mendapatka daun-daun sinom untuk kuracik menjadi minuman segar nikmat dan berkasiat, tiba-tiba aku merindukan sosok Pak Kandar….jarang sekali ku lihat kehadiran sinom dihamparan barang dagangan milik penjual sayur atau bahan-bahan jamu, baik dipasar kecil, besar, ataupun pasar induk. Jika penyebabnya di kota Malang ini sudah jarang sekali pohon asam itu ku anggap wajar. Tapi di daerah lain seperti Bayuwangi, Lamongan, dan Madura pohon-pohon itu masih lestari. Apa karna sudah tidak ada lagi sosok piawai pemberani sepesialis pemanjat pohon asam dan pemetik sinom seperti Pak Kandar? Atau karna tubuh daun sinom memang mudah capai dan rusak sehingga para pemasok malas menjadikannya komoditi jarak jauh walau saudaranya, si buah asam harganya telah melambung tinggi dari hari ke hari? Persetanlah dengan semua kenyataan itu. Yang jelas sinom sahabatku, aku tetap fans beratmu nan setia merindukanmu. Setiap melaju di jalan raya dan menjumpai satu dua pohon asam yang masih tersisa, pandanganku sontak berbinar melihat dedaunan mudanya! Saat itu aku selalu bermimpi menjadi manusia bersayap bak burung atau kupu-kupu. Supaya aku bisa melesat ke atas, bergerak bebas kesana kemari memetik dedaunanmu sinom, tanpa khawatir jatuh atau celaka ! Alangkah senangnya…!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: